Monday, December 29, 2008
New Year (1430 H)
New Year.
New Spirit.
Keep Moving Forward ;-)
Sunday, November 30, 2008
[Egoisme]...sebuah akar.
[Egoisme]...sebuah akar
Ketika kita bertanya pada diri sendiri, apa dan mengapa semua ini terjadi . . .
Saat krisis kian mengakar pada kehidupan, saat dekadensi moral kian laju menerjang,
Dan kita [baru] mulai bertanya...?
Ketika harapan berada di tepi jurang kekecewaan dan masa depan begitu mengkhawatirkan. Monumen peristiwa yang selalu ingin dilupakan dan segera dilewati, tetapi waktu seperti bisa memperlambat dirinya sendiri.
Ada satu kata dalam bahasa Inggris, "gutted", memupuskan harapan;
seorang ayah yang bertahun-tahun mengayuh becak demi sekolah anaknya tercinta, suatu hari harus mendapat surat drop out untuk anaknya yang tak pernah bersungguh-sungguh sekolah. Atau seorang lelaki di perantauan yang bekerja setengah gila untuk kekasihnya tercinta di desa, suatu hari pulang menyaksikan pujaan hatinya merayakan pesta perkawinan bersama lelaki yang lain.
Saat harapan berada di tepi jurang kekecewaan, hidup begitu meyesakkan untuk diteruskan, dan masa depan begitu mengkhawatirkan… itulah saat-saat krisis. Bila dunia sedang seperti perasaan bapak pengayuh becak atau lelaki perantau yang patah hati, sesugguhnya dunia sedang menagalami sebuah fase krisis, gutted.
Ketika neoliberalisme benar-benar diyakini bisa berjalan sendiri sesuai harapan, ia justru seperti anak sekolah yang mangkir dari harapan bapaknya. Tangan-tangan ajaib yang tersembunyi, invisible hands, yang masih patuh pada fatwa Milton Friedman dan Alan Greenspan untuk tak melibatkan Negara dalam urusan ekonomi, pada saatnya ternyata harus “diikat” karena justru menruntuhkan harapan yang dibangun. Dan pada saatnya ternyata Negara harus turun tangan juga, lewat sejumlah sikap seperti balliout, conservatorship, atau apapun namanya, untuk mengais lagi puing-puing yang tersisa, membangun kembali harapan yang hampir saja rubuh rata tanah sambil menyembunyikan rasa malu yang terlampau dalam.
Wall Street menjerit, nilai tukar mata uang melemah, harga saham anjlok, investor yang panik, penjualan saham besar-besaran, pasar yang mulai tidak percaya, dan sebuah kesimpulan bahwa perekonomian global sedang gonjang-ganjing. Sedang krisis.
Siapa yang berharap, harus siap untuk kecewa. Mungkin pepatah itu benar. Soal yang penting bukanlah menyalahkan ekonomi (neo)liberal yang gagal menuntaskan harapan dunia, bukan pula soal “saatnya sosialisme atau ekonomi Islam meju ke pentas” untuk mengobati penonton yang kecewa—menyelesaikan krisis bukan soal mengganti badut yang gagal melawak dengan badut lain yang sebelumnya tak diundang penyelenggara pesta. Menyelesaikan krisis adalah soal memahami dari mana semua yang mengecewakan ini bermula?
Egoisme, kata Michael J. Sandel, filsuf asal asal Amerika Serikat, adalah musabab dari semua krisis yang saat ini menimpa kita. Atau “rakus”, dalam bahasa Goenawan Mohammad. Setiap orang menginginkan dirinya sendiri sebagai yang paling bernilai, paling berkuasa, paling baik dan seterusnya. Rasanya, semua orang di seluruh dunia sedang mengalami sindrom ini, ketika “aku” selalu ingin menguasai “selain aku”, ketika “aku” selalu ingin jadi yang paling sempurna.
Kesempurnaan, egoisme membuat semua orang berusaha mencapai itu. Maka Jürgen Habermas, filsuf Jerman itu, sepertinya memang tak salah ketika mengaitkan egoism dan perfeksionisme. “Dasar dari pefeksionisme adalah egoisme yang memusuhi kesosialan manusia,” katanya. Kesosialan? Ya, kesadaran untuk memahami bahwa ada “yang lain” selaian “aku”, kesadaran eksistensi keberagaman, kesadaran untuk menerima kekurangan dari yang lain, kesadaran untuk memahami bahwa “aku” dan “selain aku” adalah entitas yang saling melengkapi.
Tapi lihatlah, kita memang gagal untuk bersikap seperti itu, bukan? Kita terlampau egois dan bahkan memusuhi “kesosialan manusa”.
Tak semua orang memiliki kulit yang putih, tapi kita menerabas keberagaman dengan cara berlomba-lomba untuk memiliki kulit putih. Lantas krim pemutih menjadi komoditas ekonomi yang berangkat dari perfeksionisme yang egois itu. Tak semua orang memiliki gigi yang rapi, bahkan kebanyakan orang memiliki gigi yang silang-selimpat. Tapi semua orang ingin memiliki gigi yang rapi, maka kawat gigi menjadi tren, menjadi komoditas bisnis yang baru.
Kita sadar bahwa kita beragam, berbeda suku, ras, bahasa, dan seterusnya, tetapi perfeksionisme yang egois tadi menggiring kita untuk menjadi satu dan seragam. Maka, di sinilah, wajah egoisme yang lain, kerakusan, lantas merasuki pikiran para pelaku ekonomi untuk terus-menerus memelihara perfeksionisme dan egoisme setiap orang demi keuntungan yang besar. Mereka tahu bahwa mengorbankan “kemanusiaan” demi keuntungan bisnis adalah langkah yang penuh resiko. Tapi prinsip investasi menagatakan “high risk, high return”.
Namun, keberagaman dan kesosialan manusia adalah hukum alam. Siapapun yang berusaha setengah mati melawan itu, pada akhirnya hanya akan mengalami gutted. Seperti Lehman Brothers, ketika perusahaan financial itu memaksa hampir semua orang untuk “hidup mewah” dengan tawaran kredit yang bermacam-macam, pada saatnya kebanyakan kredit mengalami kemacetan, ketika kredit menjadi macet maka nilai investasi seperti rumah megah yang kosong, bubble economy, hingga pada saatnya balon itu pecah—they get what they asking for, kata Joseph Stiglitz.
“Sejatinya, egoisme dan kerakusan itulah yang menjadi akar dari semua krisis yang sedang kita hadapi,” kata Paul Anthony Samuelson, Profesor pemenang Nobel Ekonomi dari Massachusetts Institute of Technology. Krisis masih bergulir dan sedang kita hadapi bersama. Biarlah Negara mengahadapinya dengan cara yang semestinya ia perankan, biarlah para ekonom memikirkan langkah-langkah strategis dari wilayah yang mereka kuasai, dan kita?
Meminjam istilah Shindunata, cobalah sedikit-sedikit mengikis “cacat” yang selama ini menguasai diri kita, cacat egoisme setengah mati..
Sebab, semua itu ia masih bisa diselamatkan. Meskipun kenyataan begitu meyesakkan dan masa depan begitu mengkhawatirkan, kita masih punya sisa-sisa tenaga yang terlalu naif untuk kita sia-siakan.
So let's start ..
Memperbaiki "cacat" diri.
andri
Saturday, November 15, 2008
Heninglah batinku . . Tersenyumlah
Heninglah batinku, saat langit tak lagi mampu dengarkan bisikanmu..
Diamlah hatiku, saat dunia seakan enggan berkawan..
........ Bayangkan, ketika masyarakat miskin membutuhkan sekitar $ 6 miliar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, sebanyak $ 8 miliar dihabiskan untuk keperluan kosmetik di AS saja. Ketika $ 9 miliar dibutuhkan masyarakat di Negara-negara miskin dan berkembang untuk perbaikan sistem sanitasi, sebesar $ 11 miliar dihabiskan untuk belanja es krim di Eropa. Pemeliharaan kesehatan dasar dan nutrisi masyarakat Negara miskin dan berkembang membutuhkan dana sekitar $ 13 miliar, di saat yang sama $ 17 miliar dihabiskan untuk pemenuhan kebutuhan hewan ternak di Eropa dan AS.
Ada yang salah dengan cara berpikir manusia? . . .
Bagaimana mungkin mereka membiarkan sesamanya meninggal kelaparan di Sub-Sahara sementara mereka memaksa sapi dan babi-babi mereka untuk semakin gemuk? Saat tukang becak dan padagang kecil di kota-kota di Indonesia kesulitan untuk memeroleh setidaknya satu dolar per hari saja, atau sekitar sepuluh ribu rupiah, rata-rata sapi di Amerika Serikat dan Eropa disubsidi dengan makanan dan perawatan harian sebesar dua dolar.
Jangan-jangan benar kata Erich Fromm, semakin hari, seiring dengan bumi yang berlari, kemanusiaan kita semakin redup saja. Saat $ 105 miliar dihabiskan untuk mengkonsumsi minuman beralkohol di Eropa dan $ 35 miliar dihabiskan untuk keperluan hiburan di Jepang, masyarakat Ethopia, Burkina Faso, dan Negara-negara di gurun Afrika lainnya menyaksikan tubuh mereka sendiri yang makin kering, tulang-tulang iga yang makin menonjol, dan mata yang semakin cekung. Ungkapan TINA atau There is No Alternative, yang diungkapkan Margaret Teacher ketika memaksa semua Negara untuk tunduk pada globalisasi, rasanya lebih tepat untuk diungkapkan oleh ibu-ibu miskin di Burkina Faso yang terpaksa menguburkan bayi-bayi mereka lebih cepat karena mati kelaparan dan kekurangan nutrisi, there is no alternative.
Ironi ini begitu getir. Sampai di sini saya harus berhenti sejenak, mengehela napas, sembari menyadari bahwa hidup ini terus-menerus mengarah pada ketidakadilan yang kontras, yang diametral. Rasanya semua isme telah gagal memainkan perannya. Bukankah semua isme dilahirkan dan dihadirkan untuk membawa kehidupan manusia ke arah yang lebih baik? Bila sudah begini, isme manakah yang berhasil? Komunisme, Sosialisme, Modernisme, Kapitalisme, Liberalisme, Posmodernisme, atau isme yang mana yang sudah membawa kehidupan manusia ke arah yang lebih baik? Ah!
Apa yang ditawarkan politik ekonomi global dengan jejaring kapitalisme liberal mereka? Ternyata tak lebih dari fenomena orang miskin yang mensubsidi orang kaya. The poor are subsidizing the rich. Orang kaya yang kelebihan uang dan bingun mau menghabiskannya di mana, menginvestasikan uang mereka di bank. Lalu bank meminjamkannya pada orang-orang miskin yang membutuhkan uang, untuk menyambung hidup atau sekedar tambahan modal usaha kecil, dengan bunga yang sangat besar. Mereka harus mengangsurnya setiap bulan dengan bunga yang sudah ditambahkan dan terus-menerus diakumulasikan. Dan orang-orang kaya tadi, sambil duduk manis memegang remote control TV kabelnya menunggu jumlah uang dalam rekening dan rekaman investasi mereka bertambah setiap saat. “Kapan kita main golf bersama?” sahutnya lewat telepon pada temannya di Boston. “Minggu ini aku harus menonton opera di London.” Jawab temannya dari balik telepon. “Oh, baiklah, kalau begitu kita main golf setelah aku pulang dari Paris saja.”
Dalam dunia yang penuh ketidakadilan, orang-orang hidup dalam sekat dan jurang yang begitu kontras. Keadilan menjadi sesuatu yang mustahil, tapi terus-menerus ditunggu dan diimpikan menjadi niscaya. Mungkin, pada saat keadilan semakin sulit ditemui dalam kehidupan itulah, konsep Ratu Adil kemudian muncul; keadilan menjadi sesuatu yang [terus-menerus] tertunda dan harus dinantikan. Sebab bagi orang-orang yang memercayainya, keadilan adalah sebuah keniscayaan yang tertunda.
Di tengah situasi semacam ini, saya jadi berpikir bahwa keadilan bukanlah kepastian. Keadilan hanyalah harapan. Inilah dunia yang penuh ironi:
putuskanlah, kau hendak berdiri di mana? Ada sejumlah uang di sakumu yang mungkin akan kau habiskan untuk sebatang coklat, sebungkus rokok, atau hal-hal lain yang [semestinya] bisa ditunda. Pada saat yang sama, ada jutaan orang yang tak memiliki apapun, sedang berjuang di antara garis teramat tipis antara kehidupan dan kematian..
Tenanglah hatiku, kelak kan hadir matahari senja yang kan hangatkanmu
Senyumlah hatiku, karena bagaimanapun , Sang Waktu telah menitipkan waktu-Nya untukmu . .
Dalam kehadirannya, hati tak lagi mampu berkata-kata
........
Salam,
Andri S Krisnanto
“…senyum bukan masalah tarikan bibir melengkung, bisa/ga, gampang/susah, kapan/dimana.
Tapi senyum adalah bagaimana kita punya niat utk menyenangkan org lain.
Itu saja....
Sesenyum apa harimu?”
Friday, October 3, 2008
Hati..
Surabaya, Sept 30th 08
Hati.. Hati..
Setiap tahun, ketika memasuki suasana Ramadhan, suasana berpuasa, kita selalu merenungkan makna dan relevansinya..
Tentang apa perlunya melatih diri selama 30 hari ini. Mengapa dalam sebelas bulan lainnya kita tidak selalu tergerak untuk mengasah kemurnian diri? ?
Pertanyaan2 ini selalu menarik untuk direnungkan.. Dan saya mencoba untuk kembali merenungkannya pada Ramadhan kali ini, Ramadhan yg berbeda untukku, jauh dari tanah air, jauh dari keluarga, menikmati indahnya Ramadhan di negeri orang.
Bicara tentang makna dan relevansi puasa, Puasa dalam Islam, adalah suatu bentuk latihan menahan diri, dari mulai menahan lapar, menahan emosi, menahan nafsu, hingga menahan untuk tidak menilai suatu situasi atau orang lain. Memang, judul, bungkus, dan tujuannya berbeda-beda, tapi bentuk latihan ini bisa ditemukan dalam setiap suasana hidup.
Saya jadi mulai menelusuri tentang segala macam hal yang biasanya perlu ditahan. Nafsu makan, nafsu amarah, nafsu untuk menguasai, dan lain-lain. Semua ini muncul dalam batin. Dan batin kita bereaksi akibat pasokan informasi yang mampir lewat panca indra kita. Dengan kata lain, ketika panca indra berhenti memberikan informasi, maka kita pun tidak punya dorongan untuk merasakan apalagi memenuhi “nafsu”.
Sudah menjadi hukum alam, ketika informasi di salah satu panca indra terhenti, maka semua indra lainnya secara alamiah menjadi lebih peka, lebih mampu menangkap getaran halus yang biasanya tidak diperhatikan.
Barangkali inilah yang terjadi ketika seseorang melatih menahan diri. Dengan memperlambat pemenuhan nafsu yang biasanya dituruti dengan seketika, barulah kita bisa melihat batas antara nafsu dan kebutuhan dengan lebih jernih. Kita lebih menghargai berbagai kenikmatan hidup yang sebelumnya mungkin kurang disyukuri. Rasa syukur ini tumbuh dari satu hal, yaitu bertambah pekanya hati.
Bila ditelusuri barulah kita sadar bahwa meskipun mata bisa melihat, hati-lah yang mengapresiasi apa yang dilihat. Meski lidah kita mengecap, hati jugalah yang menikmati apa yang dikecap. Meskipun telinga kita mendengar, hati kitalah yang terbuai oleh keindahan bunyi, suara dan musik. Panca indra hanya menangkap informasi. Pada akhirnya kepekaan rasalah yang memungkinkan kita untuk merasakan keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan dari informasi tersebut.
Proses perenungan ini melahirkan suatu kesadaran dalam diri saya, bahwa hidup bukanlah tergantung dari apa yang terjadi, apa yang kita inginkan maupun apa yang kita dapatkan dari kehidupan ini.
Hidup ini tergantung dari bagaimana kita menghadapinya, bagaimana kita menari dengan perubahannya.
Bagi saya, tanpa hati yang hidup, peka dan terbuka, tidaklah mungkin kita menjadi manusia yang mengerti, menikmati dan mensyukuri. Dan jika melatih untuk mengelola berbagai nafsu dalam diri memang jalan menuju hidupnya hati, saya merasa ada suatu urgensi untuk “berpuasa” setiap saat, setiap momen.
Hidup adalah proses tanpa henti. Hidup adalah latihan tanpa henti. Dan kita telah terdaftar untuk ikut berlatih.
Selamat Menyambut Idul Fitri.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Andri dan keluarga memohon maaf setulusnya atas segala kekhilafan sikap dan tutur kata. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan petunjuk-Nya bagi kita semua.
Sunday, September 14, 2008
Birthday Reflection ..
11:00 PM - di penghujung tanggal 14,
Di sela malam indah bulan Ramadhan.
Today was my Birthday..
Di sebuah ruang kamar, seorang manusia berusaha merenungi, mencoba memahami..
seberapa banyak dia mampu belajar dari kehidupan yg telah dianugerahkan padanya .. 23 tahun sudah dia bernafas, melangkah, belajar..
Sudah mampukah dia memetik sari kejaiban dalam kehidupan .. seberapa banyak dia belajar tentang hidup, seberapa jauh dia mengenal Dien-nya .. masih pekakah hatinya dalam menjalani hidup, atau sudah dibutakan oleh kehidupan itu sendiri .. Mampukah dia belajar dari setiap kesalahan yg telah dibuat..
Ya Allah, tuntun langkah hambamu ini ..
yang jauh dari sempurna.
23 tahun yg lalu, kedua orangtuaku, menanti dengan sabar, dengan sejuta harapan terhadap anak pertamanya ini.
Apa ya yang orang tuaku pikirkan dan harapkan tentang anaknya yang satu ini?
Seperti yg pernah aku tonton di salah satu cerita di doraemon (he2, doraemon lovers nih, maklum robot kucing ini selalu setia menemani tiap minggu pagi saat masa2 kecil dulu), ada cerita dimana nobita kembali ke saat ketika dy dilahirkan dan dy mendengar orang tua dan keluarganya berharap begitu besar padanya.
Apa yang orang tua dan keluargaku harapkan padaku? eyang Putri, eyang kakung .. apa yang beliau harapkan dari cucu pertamanya ini ..
Apakah aku sudah memenuhi sebagian keinginan mereka?
Aku bersyukur, amat sangat bersyukur kepada Allah SWT yang memberikan banyak kebahagian padaku.
Allah memberikan kekuatan fisik dan mental yang sempurna untukku sehingga aku bisa menjelajah dunia ini dengan kekuatan itu.
Aku juga di anugerahi keluarga yang menyayangiku.
Teman-teman yang luar biasa.
Dan seseorang yang tersayang dan sangat spesial dihatiku ..
Pantas kah aku untuk tidak bersyukur??
Ya Allah.. ampuni kesalahan2ku.
Mungkin kadang, bahkan sering aku lupa padaMu yang telah memberikan anugrah begitu banyak dan indah. Aku ingin selalu dalam lindunganMu..
Anugerahkan seberkas cahaya dalam hati, agar qalbu ini selalu bersyukur dan mengingat-Mu.
Amin.
ask
Saturday, September 13, 2008
New York.. New York..
Begitu datang, disambut suasana yg mendung, moga2 aja ga ujan,
Perjalanan ke Liberty Statue.. langitnya mendung banget yach.
Sampe di Liberty Statue, cuaca udah baekan, Alhamdulillah. Sempet ketemu orang2 Indonesia disini (jadi kangen surabaya beserta orang2 tercintanya..) hm..
Selesai menikmati keindahan dan suasana (juga berpose) di Liberty, langsung melanjutkan ke Ellis Island, ini adalah museum imigrasinya US, yg menunjukkan sejarah warga negara Amerika, bahwa awalnya mereka adalah bangsa pendatang, yg datang dari seantero dunia.
Liberty.. Liberty
Setelah Liberty Statue, sekarang pengen ke arah downtown, 2nd destination, Empire State..
Naek subway, pengalaman pertama nih.. suasananya hectic, ga bisa bayangin klo ini hari kerja, pasti tambah ruwet, he2.. Wah, kacau, rutenya banyak banget, buka map, jangan sampe nyasar andri, ga lucu nih.. he2. Di Subway, banyak seniman2 jalanan yg seru2, mereka performnya Ok bgt, kreatif dan orisinil.
Nyampe di Empire, dan merasakan suasana kota New York, jadi percaya kalo kota ini disebut kota dunia, hampir semua budaya ada, semua bahasa, semua jenis makanan, semua warna kulit, dll, blended di sini , ditambah lg perusahaan2 kelas dunia byk yg bermukim disini .. tapi itu tetap tidak membuat aku berpaling, Surabaya tetap di hati.. he2. Mizz U Surabaya..
Empire State , "New York Skycraper"
Setelah dari Empire, 3rd Destination, Times Square, yg katanya jantung-nya new York, ternyata memang indah.. suasananya khas banget.
andri in the heart of New York
Hmm.. saatnya balik, dengan menyimpan sejuta kenangan bersama kota ini, "kota yang tidak pernah tidur", kota yg terkenal dengan keanekaragaman budaya, gaya hidupnya yg cepat, dan kosmopolitanisme.
New York..New York..
ku akan kembali suatu saat nanti, bersama keluargaku.. kan kuajak mereka mengunjungimu..
andri s krisnanto
Saturday, September 6, 2008
My first step..
Alhamdulillah, akhirnya jadi juga bikin blog.
Ramadhan kali ini terasa berbeda, ini pertama kali puasa hampir selama 1 bulan di luar kampung halaman tercinta, Surabaya.
Ini juga pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang..
Arek Suroboyo ini sekarang menginjakkan kaki di US, bepergian beribu-ribu mil jauhnya.
Yg ga pernah kebayang sebelumnya, jangankan ke luar negeri, ke luar pulau aja pikir2..he2. :)
Hm.. disyukuri aja ndri, selalu ada hikmah di setiap rencana-Nya.
Perjalanan kali ini karena ada project yg harus dihandle disini, Doakan diriku berhasil memakna setiap kisahnya, semoga diberikan yg terbaik..amin.
Perjalanan yang panjang.. semoga hikmah dan ilmu yang bermanfaat dapat terpetik, dan terbagi pada dunia..
OK then,
This is my first blog, and.. jaz wanna fill in,
and share my stories to the world.
Life is Wonderful.
Keep fighting,
Keep thinking,
Keep sharing..
Cheers,
ask